Upaya pelestarian burung Sikatan cacing (Cyornis banyumas) di Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta kini memasuki babak baru yang lebih mutakhir. Pada tanggal 23–24 Januari 2026, sebanyak 13 pejuang lingkungan yang terdiri dari 4 personil BISA Indonesia dan 9 anggota KTH Wanapaksi berkumpul di Omah Naungan Kopi Sulingan, Gunung Kelir, Kulon Progo mengikuti pelatihan intensif penggunaan aplikasi EarthRanger.
EarthRanger adalah platform perangkat lunak berbasis AI dan cloud yang dirancang untuk melindungi satwa liar dan ekosistem dengan memvisualisasikan data real-time dari patroli.
Langkah ini sebagai strategi konkret memperkuat pengawasan habitat burung ikonik tersebut melalui sistem pemantauan berbasis digital yang terintegrasi. Kegiatan yang dipandu oleh Sungkono selaku program manager dari BISA Indonesia, memadukan sesi teori dan praktik langsung di area Padukuhan Gunung Kelir. Mengapa harus EarthRanger?
Keunggulan utama teknologi ini terletak pada kemampuannya menyajikan data secara real-time dan terintegrasi dengan aspek spasial. Dengan sistem satu pintu, tim kerja konservasi spesies ini dapat melakukan analisis temporal dengan lebih mudah, memastikan standarisasi data patroli, dan memantau kondisi lapangan secara instan tanpa perlu menunggu proses input manual yang lama.
Proses adopsi teknologi ini diawali dengan tiga langkah krusial. Pertama, penyiapan data model awal dan akun user/pengguna melalui admin pengelola. Kedua, pemasangan aplikasi EarthRanger pada perangkat seluler tim patroli. Ketiga, setelah sistem siap, para anggota KTH Wanapaksi dapat langsung melakukan input data sesuai temuan di lapangan—baik itu perjumpaan satwa maupun potensi gangguan hutan. Digitalisasi ini, diharapkan dapat berdampak pada perlindungan burung Sikatan cacing yang telah dilaksanakan di Jatimulyo menjadi lebih terukur, cepat, dan efektif. Populasi spesies ini dapat terjaga demi keberlanjutan ekosistem di masa depan.


