Bisa Indonesia bersama dengan warga Desa Kalipait, Tegaldlimo, Banyuwangi melaksanakan pemetaan kekayaan hayati sekaligus menggali potensi ekowisata berbasis masyarakat yang terletak di sekitar dan dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, pada Selasa 16 September 2025. Observasi pertama dilaksanakan di perbatasan kawasan Taman Nasional dan lahan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Selatan.
Dalam pemetaan kekayaan hayati diperoleh hasil identifikasi tujuh jenis burung serta yang tidak kalah pentingnya adalah penemuan sarang Burung Pelatuk di batang pohon Sengon (Falcataria moluccana).
Dua hari berselang, pada 18 September 2025 pengamatan dilanjutkan ke area Perhutani Bagian Timur. Hasilnya cukup menggembirakan karena tim mencatat keberadaan 23 jenis burung yang beraktivitas di sekitar lokasi pengamatan. Tingginya keragaman spesies dalam waktu singkat ini membuktikan bahwa wilayah penyangga di sekitar Desa Kalipait, Banyuwangi, memiliki kekayaan avifauna yang luar biasa. Keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam kegiatan ini bukan hanya sekadar pendampingan, melainkan langkah awal dalam membangun kesadaran konservasi mandiri serta penguatan kapasitas warga dalam mengenali potensi alam di halaman rumah mereka sendiri.
Secara khusus hasil dari rangkaian observasi ini memberikan angin segar bagi pengembangan wisata minat khusus di Desa Kalipait, Kabupaten Banyuwangi. Tim menyimpulkan bahwa melimpahnya titik pengamatan burung di lokasi tersebut sangat layak dijadikan dasar pengembangan objek wisata birdwatching. Selain itu, terdapat potensi besar untuk membangun fasilitas bird hide (tempat persembunyian pengamat) agar wisatawan dapat mengamati perilaku burung dengan lebih dekat tanpa memberikan gangguan. Dengan partisipasi rutin masyarakat yang mulai terbentuk, Desa Kalipait dan Alas Purwo diproyeksikan mampu menjadi destinasi unggulan bagi para pecinta ornitologi, sekaligus menjaga kelestarian burung di habitat aslinya.


