Pada 26 Agustus 2026, BISA Indonesia bersama Kanopi Indonesia, KTH Wanapaksi, dan warga lokal melakukan pencarian keberadaan Sikatan Cacing (Cyornis banyumas) untuk memastikan apakah burung yang menjadi salah satu kekayaan alam Jatimulyo ini masih menghuni kawasan tersebut. Perjalanan dilakukan dengan menyusuri sejumlah area yang dinilai berpotensi menjadi habitat Sikatan Cacing. Tim tidak hanya mencari keberadaan burung, tetapi juga menelusuri kemungkinan lokasi sarang serta mengamati kondisi habitat dan mikrohabitat yang mendukung kehidupan satwa. Binokuler dan kamera digunakan untuk membantu pengamatan, sementara aplikasi EarthRanger dimanfaatkan untuk mencatat titik dan hasil perjumpaan di lapangan.
Menariknya, pencarian kali ini berawal dari informasi masyarakat setempat. Suara dan keberadaan Sikatan Cacing kemudian coba ditelusuri dengan bantuan rekaman suara untuk memancing respons burung.
Hasilnya membawa kabar menggembirakan: Sikatan Cacing masih ditemukan di kawasan Sokomoyo. Temuan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kawasan ini masih memiliki kondisi habitat yang relatif baik dan perlu terus dijaga. Bagi tim, satu perjumpaan mungkin terlihat sederhana. Namun, dalam upaya konservasi, setiap jejak memiliki arti. Temuan di Sokomoyo menjadi bagian penting untuk memperluas informasi mengenai persebaran Sikatan Cacing di Jatimulyo, yang selama ini lebih banyak dikenal dari kawasan Gunung Kelir dan Banyunganti.
Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa temuan ini tidak berhenti sebagai catatan lapangan. Titik-titik keberadaan Sikatan Cacing perlu ditindaklanjuti melalui monitoring berkala, baik pada musim bersarang maupun di luar musim bersarang. Pemantauan berkelanjutan akan membantu memahami keberadaan, habitat, dan kondisi populasi burung secara lebih baik.
Penulis: Wildan Rizaldi
Editor: Raafi Nur Ali

