Bagaimana jika keberadaan satwa bisa dipelajari bukan hanya dari pengamatan di lapangan, tetapi juga melalui data dan peta? Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari proses Peningkatan Kapasitas Petugas Taman Nasional Alas Purwo melalui Pelatihan Platform MaxEnt untuk Pemetaan Wilayah yang berlangsung pada 17–18 September 2026 di Kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo. Pada hari pertama, peserta diajak melakukan recap materi MaxEnt sebelumnya untuk memahami kembali peran data lingkungan dalam proses pemodelan. Data yang digunakan meliputi elevasi, kemiringan lereng, jarak dari jalan, batas kawasan, sumber air, tutupan lahan, suhu, curah hujan, hingga NDVI. Selanjutnya, peserta mempraktikkan tahapan penyiapan data, mulai dari reproyeksi hingga penyeragaman format dan resolusi, sehingga seluruh data siap digunakan dalam proses pemodelan MaxEnt.
Memasuki hari kedua, proses berlanjut dari sekadar menyiapkan data menjadi mengolahnya menjadi informasi yang lebih bermakna. Peserta menyiapkan data kehadiran Banteng (Bos javanicus) sebanyak 1.539 titik, yang kemudian disaring menjadi 43 titik berdasarkan jarak minimum 1.000 meter. Data lingkungan, occurrence, dan bias selanjutnya digunakan dalam pemodelan MaxEnt dengan 10 kali replikasi menggunakan metode Crossvalidate. Hasil model kemudian dievaluasi dan dilanjutkan dengan priority mapping, melalui penggabungan berbagai kriteria seperti data perburuan dan camera trap untuk menghasilkan peta prioritas. Pada akhirnya, proses tersebut menghasilkan data dan model yang siap digunakan untuk membantu pemetaan distribusi serta prioritas habitat Banteng di kawasan yang dikaji.
Ke depan, kemampuan mengolah data dan menghasilkan pemetaan seperti ini diharapkan dapat semakin memperkuat pengelolaan kawasan berbasis pengetahuan dan bukti. Bukan hanya menghasilkan peta, tetapi juga membangun kapasitas petugas untuk membaca kondisi habitat, memahami pola distribusi satwa, serta melihat wilayah yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam pengelolaan konservasi. Dari data yang dikumpulkan, diolah, dan dipahami bersama, semoga semakin banyak keputusan konservasi di Alas Purwo yang dapat dilakukan dengan dasar informasi yang kuat—karena setiap data memiliki cerita, dan setiap peta dapat menjadi langkah menuju perlindungan habitat yang lebih baik.
Penulis: Wildan Rizaldi
Editor: Wildan Rizaldi

