Untuk melindungi satwa liar dari ancaman perburuan, BISA Indonesia dalam program Konservasi spesies kritis burung Sikatan cacing (Cyornis banyumas) di Desa Jatimulyo menginisiasi patroli rutin berbasis masyarakat di wilayah Kalurahan Jatimulyo, Kulonprogo. Patroli dilakukan dengan menyusuri jalur-jalur rawan di sekitar hutan dan lahan milik warga, sekaligus menjadi sarana edukatif tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem lokal. Kegiatan ini merupakan respons nyata terhadap maraknya ancaman perburuan liar yang berdampak pada penurunan populasi satwa endemik, termasuk berbagai spesies burung khas Jatimulyo.
Patroli dilaksanakan setiap bulan, dengan rute yang bervariasi, melibatkan masyarakat dari berbagai dusun yang menjadi titik lokasi pengawasan. Keterlibatan warga menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Selain memperkuat rasa kepemilikan terhadap lingkungan, kegiatan ini juga menumbuhkan semangat gotong royong dalam menjaga kelestarian alam. Untuk meningkatkan efektivitas, tim patroli memanfaatkan aplikasi EarthRanger—sebuah platform digital yang memungkinkan pencatatan sistematis atas lokasi, waktu patroli, serta temuan-temuan penting di lapangan, seperti jejak perburuan dan keberadaan satwa.
Dengan menggabungkan pendekatan kolaboratif dan teknologi, patroli rutin di Jatimulyo telah membawa dampak positif dalam menekan kasus perburuan liar. Lebih dari itu, kegiatan ini memperkuat jaringan sosial antarwarga dan membangun komitmen bersama untuk konservasi. Kini, Kalurahan Jatimulyo dikenal sebagai contoh sukses konservasi satwa liar berbasis masyarakat—model yang membuktikan bahwa pelestarian alam akan lebih kuat jika digerakkan oleh komunitas lokal yang sadar, terlibat, dan terorganisir.

