Dari Pemburu Menjadi Pemandu Wisata

By
Dari Pemburu Menjadi Pemandu Wisata

Sepanjang April 2026–Sebuah langkah nyata untuk memetakan potensi wisata minat khusus berbasis konservasi (ecotourism) resmi dilaksanakan di kawasan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Agenda pemantauan yang diinisiasi oleh BISA Indonesia bersama petugas TNAP memantau berbagai titik habitat krusial, mulai dari kawasan hutan hingga area permukiman di desa penyangga. Catatan menarik sekaligus temuan berharga di lapangan menunjukkan bahwa keanekaragaman burung kicau dan khas yang sangat kaya kini sudah mulai terdata hidup berdampingan secara aman di kawasan penyangga. Kehadiran burung-burung ini menjadi modal awal yang sangat kuat bagi pengembangan wisata pengamatan burung berbasis masyarakat (avitourism). 

Rangkaian pengamatan intensif yang dilakukan dari pagi hingga sore hari di beberapa titik seperti Resort Kucur dan Resort Rowobendo ini berhasil mendokumentasikan puluhan spesies burung ikonik termasuk Merak hijau, Punai gading, Julang emas, dan Elang-laut perut-putih. Capaian paling istimewa dari kegiatan pemantauan April 2026 adalah tercatatnya tujuh kali perjumpaan dengan Jalak putih-punggungabu (Acridotheres melanopterus). Burung langka terancam punah tersebut berhasil terdokumentasikan sedang bertengger di pohon serut (Streblus asper)dan ketapang (Terminalia catappa) di wilayah Jatipapak, Resort Kucur, Kabupaten Banyuwangi dan terpantau sedang mencari makan di dekat banteng liar di savana Sadengan. Keberhasilan pendataan satwa-satwa tersebut memperkuat bukti bahwa daya dukung lingkungan Alas Purwo masih sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi avitourism kelas dunia. 

Melalui inisiasi program ini, langkah ke depan akan difokuskan pada pengamatan yang lebih masif, seperti pemeliharaan habitat asli satwa di kawasan penyangga TN, dan pembiasaan agar burung-burung liar di sekitar pemukiman lebih ramah terhadap aktivitas manusia. Harapan besarnya, pengembangan avitourism ini mampu mengubah perilaku masyarakat setempat, terutama dengan merangkul para mantan pemburu secara intensif agar mengalami perubahan sudut pandang cara pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dengan beralih menjadi pemandu wisata yang sekaligus menjadi agen utama konservasi. Dengan menyediakan alternatif mata pencaharian yang ramah lingkungan, diharapkan program berkelanjutan ini mampu menyelaraskan kebutuhan ekonomi rumah tangga warga penyangga sekaligus menjamin kelestarian burung-burung langka dari ancaman kepunahan. 

 

Penulis: Raafi Nur Ali

Penyunting: Pius Erlangga