Menyelaraskan Isi Perut dan Kelestarian Burung Sikatan Cacing

By
Menyelaraskan Isi Perut dan Kelestarian Burung Sikatan Cacing

Sabtu, 23 Mei 2026–Diskusi hangat mengalir di Omah Naungan Kopi Sulingan, Gunung Kelir, Jatimulyo, Kulon Progo, DIY. Bersama dengan Agustinus Wijayanto sebagai fasilitator, diskusi tersebut diikuti oleh KTH Wanapaksi, Kanopi Indonesia, Bisa Indonesia, masyarakat desa Jatimulyo dan pemilik lahan bambu aren. Pertemuan ini berfokus pada perlindungan habitat, tata cara pemanenan bambu-aren, dan upaya penyelamatan burung Sikatan cacing (Cyornis banyumas). Menariknya, di tengah kebutuhan ekonomi, para pemilik lahan di Jatimulyo ternyata sudah memiliki kesadaran tinggi terhadap satwa dan lingkungan. Masyarakat Jatimulyo berkomitmen untuk tidak menebang atau memanfaatkan bambu-aren yang memiliki sarang burung aktif.

Tantangan terbesar dalam konservasi ini adalah status bambu dan aren sebagai komoditi ekonomi sekunder masyarakat Jatimulyo. Disisi lain, kedua tanaman ini adalah pilar utama bagi kelangsungan hidup satwa dan khususnya burung Sikatan cacing. Rumpun bambu merupakan lokasi favorit burung Sikatan cacing untuk bersarang, sementara pohon aren menyediakan ijuk sebagai bahan utama penyusun sarangnya. Mengingat tanaman-tanaman ini berada di lahan milik perseorangan, maka menyelaraskan urusan isi perut dan pelestarian alam tentu bukan perkara mudah. Harga jual bambu di tingkat petani mencapai harga Rp5.000/batang dengan contoh nyatanya setiap pemilik tanaman bambu mampu menjual hingga 10 hingga 20 batang dengan nominal tersebut sudah dapat memenuhi kebutuhan satu hari. Diskusi ini menegaskan perihal ketergantungan satwa terancam punah terhadap daya dukung lingkungan telah berhasil dipetakan dengan cara merumuskan solusi berbagi ruang yang adil. 

Selanjutnya, forum ini telah menyepakati bahwa informasi ini tidak berhenti di tingkat petani pemilik tanaman melainkan harus menyasar pihak tengkulak serta pembeli bambu dan aren. Harapannya, tengkulak paham betul bahwa bambu dan aren yang dibeli bukanlah sekadar transaksi Rupiah, melainkan ada ekosistem serta kehidupan lain yang bergantung didalamnya. Melalui kesepakatan pemanenan yang terstruktur dan adanya skema kompensasi ekonomi yang disiapkan bagi pemilik lahan, diharapkan keseimbangan antara kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat dan perlindungan habitat burung Sikatan cacing di desa Jatimulyo dapat terjaga secara berkelanjutan. 

 

Penulis: Raafi Nur Ali

Penyunting: Pius Erlangga