Mendorong Konservasi Burung Melalui Pertanian Terpadu di Kawasan Alas Purwo

By
Mendorong Konservasi Burung Melalui Pertanian Terpadu di Kawasan Alas Purwo

Banyuwangi, 12 Maret 2026–BISA Indonesia bersama perwakilan kelompok masyarakat lokal melaksanakan kegiatan pemantauan berkala pada dua lokasi demplot pertanian terpadu di kawasan penyangga Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek SafeNest Indonesia yang berfokus pada pembangunan kapasitas “kelompok Madu Sehat dan Cabe Sejahtera”. Langkah nyata ini diinisiasi untuk mengedukasi masyarakat mengenai integrasi antara praktik pertanian ramah lingkungan dengan upaya konservasi habitat burung ikonik yang kian terancam punah akibat perburuan liar dan hilangnya habitat. 

Tim lapangan melakukan pemantauan langsung untuk mengevaluasi perkembangan berkala komoditas bernilai ekonomi tinggi yang dibudidayakan kelompok yaitu lebah madu klanceng (Heterotrigona itama) dan cabai jawa (Piper retrofractum). Dampak cuaca buruk sempat membuat daun cabai jawa sedikit menguning dan posisi tiang rambatannya miring, namun tanaman ini terbukti tangguh dan tetap tumbuh subur. Tantangan lain juga ditemukan di lapangan, yaitu matinya sebagian tanaman air mata pengantin (Antigonon leptopus) vegetasi pakan lebah akibat semprotan herbisida dari lahan sekitar. Meski demikian, secara umum kegiatan pertanian berbasis konservasi ini tetap menunjukkan tren yang sangat positif. Kondisi koloni lebah terpantau cukup sehat dan tanaman cabai jawa berhasil tumbuh subur dengan tinggi mencapai 17 cm dari tinggi awal saat ditanam tiga bulan lalu.

Keberhasilan awal ini membuktikan bahwa lanskap pertanian terpadu berpotensi besar menyediakan sumber pakan dan tempat bertengger yang aman bagi kelestarian burung lokal. Kedepannya, BISA Indonesia merekomendasikan adanya pendampingan ekstra serta pemantauan rutin agar kelompok masyarakat semakin mandiri dan aktif. Kedepannya kawasan demplot ini tidak hanya memperkuat ekonomi rumah tangga warga tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata desa berbasis konservasi.