Bagaimana kita bisa mempelajari keberadaan burung migran tanpa harus selalu mengandalkan pengamatan langsung? Salah satu caranya adalah melalui suara. Senin 21 September 2026-BISA Indonesia bersama tim melakukan pemeliharaan perangkat pemantauan akustik sekaligus mengambil data rekaman dari periode sebelumnya Di Muara Sungai Progo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini menjadi salah satu habitat penting bagi burung migran di sepanjang East Asian–Australasian Flyway (EAAF), dengan beragam habitat seperti delta muara, gosong lumpur, laguna, dan persawahan yang dimanfaatkan burung untuk singgah, mencari makan, maupun beristirahat selama perjalanan migrasi.
BISA Indonesia menggunakan pendekatan Passive Acoustic Monitoring (PAM) untuk merekam aktivitas vokal burung secara berkala. Dalam perekaman suara pada kegiatan ini mencakup enam perangkat Autonomous Recording Unit (ARU) yang ditempatkan di habitat muara dan persawahan. Pemeliharaan dilakukan melalui penggantian baterai dan kartu memori, pemindahan serta pencadangan data, hingga pengaturan ulang jadwal perekaman. Seluruh perangkat berhasil dipastikan kembali aktif dan berfungsi normal. Dari proses tersebut, ribuan berkas rekaman suara berhasil dihimpun untuk mendukung pemantauan burung migran dalam program Locally-Led East Asian Flyway Acoustics (LEAFA). Data ini selanjutnya akan dikelola dan dianalisis sebagai bagian dari upaya membangun informasi akustik yang berkelanjutan.
Keberlanjutan pemantauan menjadi langkah penting untuk memahami dinamika keberadaan burung migran dan mendukung upaya konservasi berbasis data. Melalui perawatan perangkat secara berkala, pengelolaan rekaman yang baik, serta pemeriksaan kualitas data, BISA Indonesia berharap pemantauan akustik di Muara Sungai Progo dapat terus menghasilkan informasi yang konsisten dan bermanfaat. Ke depannya, data tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman tentang burung migran dan habitatnya, sekaligus menjadi salah satu pijakan dalam merancang langkah konservasi yang lebih tepat sasaran. Karena terkadang, untuk memahami kehidupan liar, kita hanya perlu mendengarkan dengan lebih saksama.
Penulis: Wildan Rizaldi
Editor: Wildan Rizaldi

